Harga Kayu Naik. Lalu Apa?
Ketika biaya produksi meningkat, perusahaan biasanya menunjuk:
“Harga bahan baku naik.”
Bisa benar.
Tetapi itu baru sebagian cerita.
Karena material yang dibeli seharga Rp10 juta tidak otomatis menjadi produk senilai Rp10 juta.
Ada:
- cutting loss;
- defect;
- trimming;
- waste;
- reject;
- handling;
- storage;
- drying;
- rework.
Maka pertanyaan yang lebih penting: Berapa biaya material per good output?
Purchase Cost Bukan True Cost
Kita bisa melihat:
Purchase Cost
harga material dari supplier.
Tetapi kemudian:
- Conversion Cost
- labor;
- energy;
- machine;
- depreciation;
- maintenance.
Kemudian:
- Hidden Cost
- waste;
- rework;
- waiting;
- downtime;
- excessive handling;
- quality failure.
Maka:
TRUE MANUFACTURING COST =
- Purchase Cost
- Conversion Cost
- Hidden Cost
- Material Yield
Dalam furniture, yield sangat penting.
Misalnya secara ilustratif: 1 m³ kayu masuk.
Tidak berarti 1 m³ menjadi produk jadi.
Ada:
- cutting;
- joint;
- shaping;
- defect;
- trimming.
Maka yang harus diukur bukan hanya:
Harga kayu/m³.
Tetapi: Cost per m³ good output.
Jangan Terjebak Cost Cutting
Memilih supplier termurah bisa menghasilkan masalah baru jika:
- defect meningkat;
- moisture tidak konsisten;
- quality tidak stabil;
- yield turun;
- delivery tidak reliable.
Begitu pula memangkas maintenance bisa menurunkan biaya bulan ini tetapi meningkatkan downtime bulan depan.
Jadi:
Cost reduction tanpa system thinking dapat menciptakan cost baru.
Studi Kasus: Integra
Pada 2024, Integra membukukan gross profit sekitar Rp784,6 miliar, tetapi gross margin turun dari 33,8% menjadi 28,1%.
Perusahaan menyebut perubahan product mix sebagai salah satu penyebab, sementara strategic cost management dan productivity membantu mempertahankan pertumbuhan operating profit.
Pelajarannya:
Cost efficiency tidak bisa dipisahkan dari product economics.
MOPINTAR COST LEAKAGE MAP
Saya menyarankan diagnosis:
1. Material Cost
Apa yang dibeli?
2. Material Yield
Berapa yang menjadi good product?
3. Conversion Cost
Berapa resource untuk mengubah material menjadi produk?
4. Quality Cost
Berapa yang harus diperbaiki?
5. Logistics Cost
Berapa biaya memindahkan produk?
6. Working Capital Cost
Berapa cash yang tertahan?
Hasil akhirnya:
COST PER GOOD OUTPUT
Perspektif CEO
Jangan hanya meminta: “Turunkan cost.”
Tanyakan: “Cost per good output kita berapa?”
CFO
Hubungkan variance: Budget → Actual → Root Cause
COO
Fokus pada: Yield + Productivity + Quality + Flow
HR
Pastikan labor cost dibaca bersama: Labor Productivity
bukan hanya jumlah tenaga kerja.
Bahan baku murah tidak menjamin produk murah.
Yang menentukan adalah berapa banyak good output yang dihasilkan dari setiap rupiah resource.
-----------------------------------------
Tetapi cost rendah juga belum cukup.
Karena pabrik bisa memiliki cost yang relatif terkendali tetapi tetap kehilangan profit jika kapasitas dan waktu produksinya tidak produktif.
Maka pertanyaan berikutnya:
Berapa profit yang dihasilkan setiap jam produksi?
Baca artikel berikutnya : Pabrik Sibuk Belum Tentu Produktif: Mengubah Production Hours Menjadi Profit per Hour