dikurangi:
- Maintenance;
- Setup;
- Changeover;
- Downtime;
- Waiting;
- Material shortage;
- Quality stoppage.
Maka jam produktif jauh lebih kecil.
Tetapi masih ada pertanyaan lain:
Apakah setiap productive hour menghasilkan profit yang sama?
Jawabannya belum tentu.
Dari OEE ke Profit per Hour
OEE membantu melihat:
Availability x Performance x Quality = OEE
Tetapi manajemen perlu melangkah lebih jauh.
Karena:
OEE bukan profit.
Maka kita dapat membangun rantai:
Available Capacity -> Operating Time -> Productive Time -> Good Output -> Contribution Margin -> Profit per Hour
Contoh Ilustratif
Misalkan satu line memiliki contribution margin:
Rp2 juta per productive hour.
Jika kehilangan: 3 jam/hari
karena downtime, waiting dan setup, maka secara ilustratif:
3 × Rp2 juta = Rp6 juta potential contribution yang hilang per hari.
Angka ini bukan klaim perusahaan tertentu, tetapi contoh cara berpikir.
Jika berlangsung 25 hari:
Rp150 juta/bulan.
Inilah cara mengubah operational problem menjadi economic language.
Studi Kasus: Chitose
Chitose menyebut pada 2025 bahwa strategi operasionalnya mencakup peningkatan fleksibilitas, percepatan lead time, efisiensi proses, serta optimalisasi sumber daya melalui multi-skill. Perusahaan juga mengaitkan investasi mesin laser jet pipe cutting dengan perbaikan inventory management dan lead time.
Ini menarik karena productivity tidak hanya berarti:
“Produksi lebih banyak.”
Tetapi:
Produksi lebih cepat, lebih fleksibel, dengan penggunaan resource yang lebih efektif.
PROFIT PER HOUR
Saya menyarankan perusahaan mulai melihat:
Output/hour
kemudian:
Good output/hour
kemudian:
Contribution/hour
dan akhirnya:
PROFIT PER HOUR
Dampak CEO
CEO dapat membandingkan:
Produk A vs B: mana yang menghasilkan profit/hour lebih tinggi?
CFO
Fixed cost absorption menjadi lebih mudah dianalisis.
COO
Bottleneck menjadi economic problem, bukan hanya production problem.
HR
Labor productivity dapat dihitung dalam konteks business value.
Mesin yang berjalan bukan berarti mesin menghasilkan value.
Orang yang bekerja delapan jam bukan berarti delapan jam tersebut productive.
Dan lebih jauh:
Output yang tinggi belum tentu profit yang tinggi.
-----------------------------
Karena output yang tinggi bisa kembali menghancurkan profit jika:
banyak yang diproduksi tetapi banyak pula yang harus diperbaiki.
Maka kita masuk ke artikel selanjutnya : The Hidden Cost of Poor Quality.