Finance berkata:
“Margin-nya 18%.”

Tetapi ada satu pertanyaan:
“Setelah semua biaya nyata untuk memenuhi order tersebut diperhitungkan, berapa profit yang tersisa?”

Inilah masalah True Order Profitability.
Harga Jual Bukan Profit

Misalnya:
Selling Price = Rp100

Standard cost:
Rp80

Maka secara sederhana margin:
Rp20

Tetapi ternyata order membutuhkan:

  • Setup tambahan;
  • overtime;
  • special packaging;
  • special inspection;
  • expedited material;
  • freight khusus;
  • payment term panjang;
  • rework tinggi.

Maka Rp20 tadi bisa menyusut drastis.

Karena itu:
Selling Price – Standard Cost

belum tentu sama dengan:
True Profitability

MOPINTAR TRUE ORDER PROFITABILITY

Saya menyarankan perusahaan furniture menghitung:
Selling Price − Material Cost − Conversion Cost − Special Handling − Quality Cost − Logistics − Cost of Working Capital − Cost to Serve = TRUE ORDER CONTRIBUTION

Ini tidak berarti semua perusahaan harus menggunakan formula persis seperti ini untuk financial reporting.
Ini adalah management decision model.
Customer Profitability

Customer A:

  • order besar;
  • margin rendah;
  • banyak customization;
  • complaint tinggi;
  • payment 90 hari.

Customer B:

  • order lebih kecil;
  • margin lebih tinggi;
  • produk standard;
  • complaint rendah;
  • payment 30 hari.

Siapa customer yang lebih baik?

Revenue akan mengatakan:
Customer A.

Profitability mungkin berkata:
ustomer B.

Product Mix Juga Menentukan Profit

Integra memberikan contoh nyata bahwa pertumbuhan penjualan dapat disertai perubahan margin akibat product mix.

Pada 2024, penjualan meningkat 27,7%, tetapi gross margin turun menjadi 28,1% dari 33,8%. Salah satu faktor yang disebut perusahaan adalah pergeseran komposisi penjualan ke building component dengan margin lebih rendah.

Pelajarannya sangat jelas:
Tidak semua pertumbuhan revenue memiliki economic value yang sama.

MOPINTAR ORDER PROFITABILITY MATRIX

Kita dapat mengelompokkan order menjadi:

High Revenue – High Profit
Protect & Grow

High Revenue – Low Profit
Fix the Economics

Low Revenue – High Profit
Scale Carefully

Low Revenue – Low Profit
Reconsider

Ini bukan berarti langsung menolak order.
Tetapi manajemen harus tahu apa konsekuensi ekonominya.

Dampak ke CEO
CEO harus tahu:
Customer mana yang benar-benar menciptakan value?

Dampak ke CFO
CFO perlu membedakan:
Accounting margin vs economic contribution.

Dampak ke COO
COO perlu tahu:
Order mana yang menciptakan complexity paling besar?

Dampak ke HR
Order dengan complexity tinggi bisa membutuhkan:

  • additional manpower;
  • skill tertentu;
  • overtime;
  • training;
  • supervisor attention.

Jadi order juga mempunyai people economics.
Order yang mengisi kapasitas tetapi tidak menghasilkan return yang memadai bukan kemenangan.
Itu bisa menjadi cara paling mahal untuk terlihat sibuk.

Kesimpulan
Perusahaan furniture tidak boleh hanya bertanya:
“Berapa order yang kita dapat?”

Pertanyaan berikutnya harus:
“Berapa profit yang benar-benar kita beli dari order tersebut?”

Karena ketika order sudah diterima, pertarungan berikutnya pindah ke dalam pabrik.

---------------------------------------------

Kalau order sudah benar, tetapi biaya untuk memenuhi order terlalu mahal, di mana masalahnya?
Jawabannya:
TRUE MANUFACTURING COST.
Baca artikel berikutnya: Kayu Mahal Bukan Satu-Satunya Masalah: Membongkar True Manufacturing Cost Furniture

#EfisiensiManufaktur #ProfitLeakage #MugiSubagyo