Tetapi ada satu pertanyaan yang sering terlambat ditanyakan: Apakah seluruh aktivitas tersebut masih menghasilkan profit yang sehat?

Ini pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar:
“Apakah order masih ada?”

  • Karena pabrik yang sibuk belum tentu pabrik yang sehat.
  • Order yang banyak belum tentu menguntungkan.
  • Revenue yang naik belum tentu menghasilkan cash.
  • Produksi yang tinggi belum tentu produktif.
  • Material yang murah belum tentu menghasilkan cost yang rendah.
  • Dan perusahaan yang masih mencatat laba belum tentu memiliki sistem yang kuat untuk mempertahankan laba tersebut ketika kondisi pasar berubah.

Industri Furniture Tidak Sedang Menghadapi Satu Masalah

Tekanan industri furniture tidak datang dari satu arah. Ada:

  • Perubahan demand;
  • Persaingan global;
  • Tekanan harga;
  • Biaya energi;
  • Bahan baku;
  • Logistik;
  • Working capital;
  • Perubahan regulasi;
  • Sustainability requirement;
  • Perubahan selera konsumen;
  • dan Produktivitas manufaktur.

Pada Juni 2026, PMI manufaktur Indonesia versi S&P Global turun menjadi 46,9, dari 50,0 pada Mei. Pesanan baru dan output melemah, sementara tekanan biaya input meningkat. HIMKI menilai pelemahan tersebut juga terasa pada industri mebel karena sektor ini sangat bergantung pada kesinambungan order, daya beli, bahan baku, tenaga kerja, logistik, dan kepastian pasar.

Tetapi ada fakta lain yang tidak boleh kita abaikan.

Bank Indonesia melalui Prompt Manufacturing Index mencatat manufaktur Indonesia pada Q1 2026 masih berada pada fase ekspansi, yaitu 52,03%, dan furniture termasuk subsektor yang diperkirakan memiliki indeks tinggi pada Q2 2026.

Jadi kesimpulannya bukan:
“Industri furniture sedang hancur.”

Itu tidak didukung fakta secara menyeluruh.

Kesimpulan yang lebih jujur adalah:
Industri menghadapi tekanan yang nyata, tetapi kondisi antarperusahaan dan antarsegmen tidak sama.

Dan justru di situlah pertanyaan profitability menjadi penting.

Pasar Masih Ada. Tetapi Ruang Kesalahan Semakin Kecil

HIMKI pada 2026 bahkan menargetkan ekspor furniture dan kerajinan Indonesia mencapai US$6 miliar dalam lima tahun, dari kisaran US$2,9–3,2 miliar yang disebut asosiasi saat ini. Artinya, industri masih melihat ruang pertumbuhan yang besar.

Tetapi peluang pasar tidak otomatis menjadi profit perusahaan.

Karena pertanyaan berikutnya adalah:
Berapa biaya untuk mendapatkan dan memenuhi order tersebut?

Order Rp10 Miliar Belum Tentu Menjadi Kabar Baik

Bayangkan sebuah perusahaan mendapatkan order baru Rp10 miliar.
Secara komersial, tentu menggembirakan.
Tetapi ternyata order tersebut membutuhkan:

  • Material dengan yield rendah;
  • Overtime tinggi;
  • Setup berulang;
  • Kapasitas mesin yang sudah penuh;
  • Rework tinggi;
  • Lead time panjang;
  • Inventory besar;
  • Freight mahal;
  • dan Customer meminta payment term panjang.

Revenue bertambah.
Tetapi margin belum tentu bertambah.
Cash bahkan bisa semakin tertekan.

Maka perusahaan harus mulai berpindah dari:
Revenue Growth

menuju:
Profitable Revenue Growth.

Studi Kasus: Chitose Menunjukkan Sisi Lain dari Cerita

PT Chitose Internasional Tbk memberikan contoh yang menarik.
Pada 2025, Chitose mencatat:

  • Penjualan bersih sekitar Rp518,55 miliar;
  • Naik sekitar 12,29% dari 2024;
  • Laba bruto sekitar Rp183 miliar;
  • Laba usaha sekitar Rp45 miliar;
  • Laba tahun berjalan sekitar Rp33 miliar.

Laba tahun berjalan meningkat sekitar 85% dibandingkan 2024.
Yang menarik bukan hanya pertumbuhan finansialnya.

Chitose juga menyebut fokus pada:

  • Fleksibilitas produksi;
  • Percepatan lead time;
  • Efisiensi proses;
  • Optimalisasi sumber daya;
  • Multi-skill karyawan;
  • dan Investasi mesin laser jet untuk pipe cutting yang dikaitkan dengan pengelolaan inventory dan percepatan lead time.

Ini memberikan pelajaran penting:
Tekanan industri tidak otomatis menghasilkan penurunan profit bagi setiap perusahaan.

Tetapi kemampuan operational control menjadi pembeda.

MOPINTAR FRAMEWORK
Furniture Profit Engine

Profit tidak muncul begitu saja di laporan laba rugi.
Ia merupakan output dari sebuah sistem:

MARKET -> ORDER -> MATERIAL -> PROCESS -> PRODUCTIVITY -> QUALITY -> INVENTORY -> CASH -> PROFIT

Dan seluruh rantai tersebut digerakkan oleh:
PEOPLE + SYSTEM + DATA

Lima Pertanyaan yang Harus Dijawab Manajemen
CEO
Apakah pertumbuhan bisnis kita benar-benar profitable?

CFO
Apakah revenue yang bertambah benar-benar berubah menjadi margin dan cash?

COO
Apakah kapasitas pabrik dikonversi menjadi output yang profitable?

HR
Apakah manpower kita menghasilkan productivity yang sebanding dengan cost-nya?

Semua fungsi
Di mana profit mulai bocor?

Kesimpulan
Industri furniture Indonesia tidak sedang berada dalam satu kondisi yang seragam.

  • Ada tekanan.
  • Ada peluang.
  • Ada perusahaan yang melemah.
  • Ada perusahaan yang tumbuh.

Karena itu, narasi:
“Industri sedang sulit.”

belum cukup.

Pertanyaan yang lebih tajam adalah:
“Dalam kondisi yang sama, mengapa economics satu perusahaan lebih sehat daripada perusahaan lainnya?”

Jawabannya membawa kita ke satu kata:
CONTROL.

Bukan sekadar kontrol biaya.
Tetapi kontrol terhadap seluruh mesin yang menghasilkan profit.

Pabrik yang hebat bukan pabrik yang paling sibuk.
Pabrik yang hebat adalah pabrik yang mampu mengubah order, material, waktu, manusia, kapasitas dan cash menjadi profit yang terkendali.

Dan kalau begitu, kita harus mencari:
Di mana sebenarnya profit mulai bocor?